Penipuan di Jepang Oleh Warga Indonesia Sendiri Tidak Sedikit

Penipuan di Jepang Oleh Warga Indonesia Sendiri Tidak Sedikit

Image Source: https://khushifairy.files.wordpress.com/2012/11/problematic-child-khushifairy.jpg

Kita juga punya pengacara dan telah konsultasi dengan mereka tetapi kasus kita lemah karena tak ada bukti nyata kontrak dan selakunya, kata seorang warga Indonesia yang bersuamikan lelaki Jepang dan sudah lama tinggal di Jepang, sebut saja namanya Inem.

Ternyata Inem rugi banyak sekali. Ada yang masih belasan juta yen belum bayar dan sekali berniat mau bayar hanya bayar 10.000 yen in line with bulan.

Bayangkan kalau misalnya 15 juta yen bayar 10.000 yen according to bulan berarti harus tunggu satuhundred twenty lima tahun. Artinya kita meninggal pun masih belum lunas. Belum lagi tak bayar bunganya.

Inem juga mengalami kasus ada yang pesan perhiasan belum bayar hingga hampir satu juta yen.

Akhirnya kontak semua di blok oleh si penipu yang katanya anak jenderal dan selakunya.

Semua penipu wanita Indonesia di Jepang itu umumnya bersuamikan Jepang tetapi tak sedikit yang kemudian bercerai dengan suaminya.

Mungkin suaminya tahu sang isteri terlibat banyak penipuan sehingga tak mau terlibat dan menceraikan.

Tapi ada pula isteri Indonesia yang ditipu suaminya warga Jepang. Katanya untuk usaha kerja dan selakunya, janjinya pinjam lebih dari 10 juta yen mau dikembalikan ternyata tak dikembalikan. Kalau pun dikembalikan hanya sebagian kecil saja seperti kasus Inem.

Kembali lagi, dibawa ke Pengacara lemah dan akan buang waktu buang tenaga karena sang suami memang tampaknya mengalihkan nama propertynya ke nama perusahaan, sedangkan pinjamannya adalah pribadi dan kalau pun dijual pun, uang itu lari ke financial institution karena sang suami ternyata pinjam banyak hutang ke bank. Akhirnya ya gigit jari saja si Bidadari.

Lagi, kembali wanita Indonesia kena tipu, sebut saja namanya si Cantik.

Dia ditipu baik laki Indonesia maupun wanita Indonesia, bahkan korbannya juga juga ada orang Jepang sampai ratusan ribu yen.

Cantik meributkan sampai ke komunitas orang Indonesia di Jepang, memang tanpa nama tapi belakangan kedua nama tersebut tampaknya diketahui banyak orang Indonesia yang ada di Jepang.

Sayangnya si cantik tak mengungkapkan di komunitas tersebut sehingga banyak yang mencurigai sana sini khususnya bagi yang masih tak tahu pelakunya, siapa nama sang wanita siapa nama sang lelaki.

Mengapa bisa terjadi?

Umumnya orang Indonesia di Jepang masih membawa budaya cara kebiasaan nya ke Jepang, percaya sana sini apalagi kalau sudah melihat rumahnya yang bagus di Jepang, suami orang Jepang, apalagi sang suami mungkin kelihatan kaya, berduit.

Percaya deh kita lha rumahnya bagus say apernah ke sana kenalan suaminya, masak sih uang ratusan ribu gak bayar? kata Inem.

Kenyataan malah gigit jari, hampir satu juta dan jutaan habis hilang tak dibayar dan tak ada bukti kuat hutang tersebut sehingga kesulitan sendiri di mata hukum.

Ada lagi yang kena tipu tapi hanya ratusan ribu yen. Padahal kalau bayar Pengacara di Jepang sekitar 500.000 yen. Lha, kalau hutang 800 yen, sudah capek, buang waktu, habis energi, jadi ribut besar, hanya untuk tiga hundred.000 yen, apakah sebanding dengan hal-hal tersebut?Akhirnya ya di relakan saja.

Paling kesal dan maksimal kasih tahu nama penipu ke orang lain, sehingga si Cantik sebenarnya membuka sendiri siapa si penipu karena bicara dengan teman-temannya, meskipun di discussion board tersebut tak dituliskan namanya, akhirnya melebar luas nama si penipu.

Tidak adanya perbedaan antara perorangan teman dengan urusan bisnis, jadi faktor utama korban penipuan orang Indonesia di Jepang.

Berpikir, Masak sih sudah di Jepang kelakuannya seperti di Indonesia? Kenyataan ya sama tak beda, tetap saja muncul kejahatan oleh orang Indonesia di Jepang dengan korban orang Indonesia sendiri umumnya.

Solusi

Lalu bagaimana sebenarnya mengantisipasi masalah penipuan ini di Jepang?

Yang pasti usahakan tak meluas sehingga pertemuan apa pun di Jepang apalagi terkait bisnis pengusaha dan ekonomi, terseleksi dengan baik jangan sampai datang si penipu.

Bagaimana dapat daftar nama penipu?Sebaiknya membuat kelompok Korban Penipuan Indonesia di Jepang sheingga terkumpul misalnya 10 warga Indonesia tergabung kelompok tersbeut, meskipun kurang bukti tetapi kalau dilaksanakan secara kelompok, diadukan bersama ke polisi, pasti polisi akan percaya karena pengaduan datang dari 10 orang dari satu kelompok, bukan dari satu orang.

Satu kelompok di Jepang snagat kuat ketimbang pengaduan hanya satu orang. Inilah mungkin yang mungkin bisa dipikirkan para korban penipuan di Jepang saat ini.

Bersatu bersama, membentuk kelompok Korban Penipuan Indonesia di Jepang sehingga memiliki List atau Daftar Penipu sehingga bisa diberikan setidaknya ke pihak Kedutaan Indonesia (KBRI) dan Konsuol Jenderal (KJRI) sehingga pihak pemerintah Indonesia di Jepang pun bisa memblokir semua undangan apa pun, tak mengundang para penipu tersebut dalam setiap kegiatan.

Kalau perlu siapa pun yang mau bertransaksi dagang, juga bisa menanyakan ke kelompok tersbeut apakah aman bertransaksi ke si A atau si B, karena kelompok memiliki daftar nama orang berbagai penipu di Jepang.

Banyak sekali yang bisa dilaksanakan Kelompok tersebut dan dipastikan akan mengurangi resiko penipuan terjadi di Jepang bukan hanya kepada orang Indonesia tetapi juga kepada orang Jepang karena daftar hitam telah kita miliki bersama.

Pada akhirnya nama Indonesia akan tetap berkibar cantik di Jepang dan penipu hanyalah oknum yang memang perlu kita singkirkan sejauh mungkin dari komunitas mana pun di dunia.

Leave a Reply